Overthingking di Ruang Kelas

Di balik suasana kelas yang terlihat biasa, banyak mahasiswa sebenarnya sedang berjuang melawan pikirannya sendiri. Duduk mendengarkan dosen, mengerjakan tugas, hingga menghadapi presentasi sering kali menjadi sumber kecemasan yang tidak terlihat oleh orang lain. Fenomena ini dikenal sebagai overthinking, kondisi ketika seseorang terus-menerus memikirkan sesuatu secara berlebihan hingga menimbulkan stres dan kelelahan mental.

Tekanan akademik menjadi salah satu penyebab utama. Deadline tugas yang menumpuk, tuntutan nilai tinggi, persaingan antar mahasiswa, hingga ekspektasi orang tua membuat banyak mahasiswa merasa harus selalu sempurna. Akibatnya, kesalahan kecil pun bisa dipikirkan berulang kali. Tidak sedikit mahasiswa yang sulit tidur hanya karena takut presentasinya buruk atau khawatir nilainya menurun.Media sosial juga ikut memperparah keadaan. Banyak mahasiswa membandingkan dirinya dengan teman-teman yang terlihat lebih aktif, lebih pintar, atau lebih sukses. Tanpa disadari, perbandingan tersebut memunculkan rasa tidak percaya diri dan tekanan batin yang semakin besar.

Overthinking yang terus dibiarkan dapat berdampak serius. Konsentrasi belajar menurun, produktivitas terganggu, bahkan bisa memicu gangguan kesehatan mental seperti anxiety dan burnout. Ironisnya, banyak mahasiswa memilih memendam perasaannya karena takut dianggap lemah atau berlebihan.Lingkungan kampus sebenarnya memiliki peran penting dalam mengatasi masalah ini. Dukungan teman, dosen yang lebih memahami kondisi mahasiswa, serta penyediaan layanan konseling dapat membantu mahasiswa merasa lebih aman untuk bercerita. Selain itu, mahasiswa juga perlu belajar memberi jeda pada dirinya sendiri, memahami bahwa tidak semua hal harus berjalan sempurna.

Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mengejar nilai dan prestasi, tetapi juga menjaga kesehatan mental agar tetap kuat menghadapi proses kehidupan. Karena di ruang kelas, yang sedang diuji bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga ketahanan diri. Suasana ruang kelas terlihat normal seperti biasanya. Dosen menjelaskan materi di depan kelas, mahasiswa mencatat, beberapa sibuk dengan laptopnya, dan sebagian lainnya hanya diam menatap papan tulis. Namun di balik suasana yang tampak biasa itu, banyak mahasiswa sebenarnya sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Mereka hadir secara fisik di ruang kelas, tetapi pikirannya dipenuhi rasa cemas, takut gagal, dan tekanan yang terus menghantui.

Fenomena overthinking kini menjadi hal yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa. Banyak mahasiswa terlalu sering memikirkan sesuatu secara berlebihan, mulai dari nilai kuliah, tugas yang belum selesai, presentasi di depan kelas, hingga ketakutan tentang masa depan. Hal-hal kecil yang sebenarnya sederhana bisa berubah menjadi beban besar di kepala mereka.

Seorang mahasiswa mungkin terlihat tenang ketika dosen bertanya di kelas. Namun di dalam pikirannya, muncul berbagai pertanyaan seperti, “Kalau jawabanku salah bagaimana?”, “Nanti teman-teman menganggap aku bodoh?”, atau “Bagaimana kalau dosen kecewa?”. Pikiran-pikiran seperti itu terus berulang hingga membuat mahasiswa kehilangan rasa percaya diri.

Tekanan akademik menjadi salah satu penyebab terbesar munculnya overthinking di lingkungan kampus. Tugas yang datang hampir setiap hari, jadwal kuliah yang padat, tuntutan organisasi, serta target IPK tinggi membuat mahasiswa merasa harus selalu kuat dan sempurna. Banyak dari mereka memaksakan diri untuk terus produktif meskipun tubuh dan pikirannya sudah lelah.

Tidak sedikit mahasiswa yang rela begadang demi menyelesaikan tugas. Ironisnya, setelah tugas selesai pun pikiran mereka tidak benar-benar tenang. Mereka mulai khawatir tentang hasil yang akan didapatkan, takut nilainya buruk, atau merasa hasil pekerjaannya masih kurang baik dibanding mahasiswa lain. Akibatnya, rasa lelah tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga mental.

Selain tekanan akademik, media sosial juga memperbesar rasa overthinking di kalangan mahasiswa. Setiap hari mereka melihat unggahan tentang pencapaian orang lain mulai dari prestasi lomba, IPK tinggi, kehidupan organisasi yang aktif, hingga pencapaian karier. Tanpa sadar, banyak mahasiswa mulai membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain.

Perbandingan tersebut sering memunculkan perasaan tertinggal. Mahasiswa merasa dirinya kurang pintar, kurang aktif, atau bahkan gagal hanya karena hidupnya tidak terlihat “sempurna” seperti yang ada di media sosial. Padahal, apa yang ditampilkan di internet belum tentu menggambarkan kenyataan sepenuhnya.

Masalah ekonomi juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Sebagian mahasiswa harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup atau membantu keluarga. Tekanan finansial membuat mereka semakin mudah merasa cemas. Mereka khawatir tidak bisa membayar biaya kuliah, takut mengecewakan orang tua, hingga takut masa depannya tidak sesuai harapan.

Sayangnya, kesehatan mental mahasiswa masih sering dianggap hal sepele. Banyak orang berpikir bahwa mahasiswa hanya perlu belajar dan menyelesaikan kuliah tepat waktu. Akibatnya, ketika mahasiswa merasa lelah secara mental, mereka sering memilih diam karena takut dianggap terlalu lemah atau hanya mencari perhatian.

Padahal, overthinking yang terus dibiarkan dapat memberikan dampak serius. Konsentrasi belajar menurun, motivasi hilang, pola tidur terganggu, hingga muncul rasa cemas berlebihan atau burnout. Dalam beberapa kasus, kondisi ini bahkan bisa berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih berat seperti anxiety disorder dan depresi.

Lingkungan kampus memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa menghadapi tekanan mental. Kampus tidak seharusnya hanya menjadi tempat mengejar nilai akademik, tetapi juga ruang yang aman bagi mahasiswa untuk berkembang secara emosional. Kehadiran layanan konseling, dosen yang lebih memahami kondisi mahasiswa, serta budaya pertemanan yang suportif dapat membantu mahasiswa merasa tidak sendirian.

Selain dukungan dari lingkungan, mahasiswa juga perlu belajar memahami dirinya sendiri. Tidak semua hal harus berjalan sempurna. Tidak apa-apa merasa lelah, bingung, atau gagal sesekali. Memberikan waktu istirahat untuk diri sendiri bukan berarti malas, melainkan bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental.

Mahasiswa sering dituntut untuk terlihat kuat. Padahal kenyataannya, banyak dari mereka hanya sedang berusaha bertahan di tengah tekanan yang datang dari berbagai arah. Di ruang kelas, yang sedang diuji bukan hanya kemampuan memahami materi kuliah, tetapi juga kemampuan menjaga diri agar tidak tenggelam dalam pikiran sendiri.Karena pada akhirnya, kesehatan mental sama pentingnya dengan prestasi akademik. Kampus seharusnya tidak hanya mencetak mahasiswa pintar, tetapi juga manusia yang sehat secara mental dan siap menghadapi kehidupan.

Komentar